Sunday, May 1, 2011

Perbaikan Komponen Hidrolik


Perbaikan Komponen Hidrolik.
Pada bagian ini anda akan mempelajari cara-cara memperbaiki setiap komponen hidrolik yang mengalami kerusakan. Ternyata sebagian besar gangguan pada sistem hidrolik disebabkan adanya kerusakan pada komponen. Apakah setiap komponen yang rusak itu mesti rusak semua bagiannya? Tentu saja tidak. Mungkin hanya sebagian kecil yang rusak sehingga dapat kita perbaiki, mungkin juga sebagian besar dari komponen itu rusak sehingga tidak dapat di perbaiki lagi. Untuk mempelajari cara-cara perbaikan komponen, anda akan mempelajari dari setiap komponen itu mengenai hal-hal berikut :
1. Diskripsi tentang fungsi-fungsi komponen (sudah dipelajari sebelumnya).
2. Gambar komponen (dapat dilihat pada modul hidrolik 1 dan hidrolik 2).
3. Bentuk kerusakan.
4. Penyebap terjadinya kerusakan.
5. Cara mengatasi kerusakan.
Ingat bahwa : Prosedur perbaikan setiap komponen juga harus sesuai dengan sistematika perbaikan yang telah dibahas di depan.
5.4.3.1. Pompa Berisik (Noisy).
Penyebab
Mengatasi / memperbaikinya
1.Udara bocor masuk kedalam sistem.










2.Timbul gelembung udara dalam saluran masuk.




3. Terjadi cavitation
(rongga dalam pipa/saluran hidrolik).










4.Ada bagian yang rusak atau hilang.






5. Sudu atau kipas dari
pompa ada yang macet atau pada katup atau pada piston.










6.Filter dan strainer sangat kotor atau terlalu kecil.


7.Pompa berputar terlalu cepat.






8.Pompa lepas dari
motornya.

·     Pastikan bahwa permukaan oli dalam tangki hidrolik masih pada garis batas sehingga pipa intake masih di bawah permukaan oli, jadi tidak menyedot udara.
·     Periksa setiap sambungan yang memungkinkan adanya kebocoran seperti seal poros pompa, sambungan pipa atau tubing (konektor).
·     Cara menemukan kebocoran ialah dengan
menuangkan oli pada bagian yang dicurigai bocor, kemudian bila berisiknya berhenti berarti anda telah menemukannya.
·     Perbaikilah bagian tersebut dengan mengeraskan
baut konektornya atau mengganti seal. (Ingat mengeraskan baut hanya secukupnya asal bocor telah berhenti).
·     Permukaan oli turun atau pipa intake terpasang di atas permukaan oli.
·     Tambah oli atau betulkan pemasangan pipa intake.
·     Kemungkian saluran intake tersumbat, ada bagian yang sobek (berlubang), saringan tersumbat dan pipanya bocor, oli terlampau kental dan sebagainya.
·     Atasi kemungkinan tersebut dengan membersihkan bagian yang tersumbat, mengganti yang sobek, mengganti oli yang terlalu kental dan sebagainya.
·     Periksa manufacture’s maintenance instruction.
·     Kencangkan semua baut-baut pengikat dimana terdapat kebocoran.
·     Ganti gasket atau packing yang kira-kira aus.
·     Bila kekentalan oli kurang cocok, ganti saja.
·     Bagian dari komponen mungkin tertusuk (kemasukan) tatal logam atau sepotong benda atau terlilit majun. Bila demikian bersihkanlah dan setel kembali.
·     Bila karena oli yang digunakan terlalu pekat ata benyak endapan sehingga komponen menjadi seret (keset) atau susah bergerak, maka bersihkan dengan larutan pembersih, keringkan baru dipasang lagi.
·     Bila karena korosi dan sudah terlalu jelek, sebaiknya diganti saja dan periksa oli apakah mempunyai daya tahan terhadap korosi.
·     Bersihkan filter dan strainer dengan pembersih yang cocok.
·     Ganti filter dan strainer bila terlalu kecil.
·     Gunakan oli yang dengan kualitas baik yang tidak mudah memberikan endapan.
·     Periksa buku manual untuk mengetahui berapa putaran maksimum yang direkomendasikan.
·     Periksa motor penggerak, puli, dan ukuran roda, barang kali ada yang mengganti. Untuk itu sesuaikan/ betulkan sesuai dengan yang direkomendasikan.
·     Periksa kelurusan (alignment) dari puli pompa dan puli motor. Karena belt dapat lepas disebabkan puli tidak lurus (misalignment) atau terlalu kendor. Keadaan ini kemungkinan disebabkan overheating.
·     Betulkan alignment dengan menyetel kembali kelurusan puli-puli tersebut.
·     Setel juga jarak antara puli agar belt tidak terlalu kendor.
Tabel 5.2. Diagnosa pompa berisik.
5.4.3.2. Pompa tidak memompa.
Penyebab
Mengatasi / memperbaikinya
1.Putaran poros pompa
terbalik.









2.Saluran hisap tersumbat.




3.Permukaan oli turun
(terlalu rendah).

4.Udara masuk ke dalam saluran hisap (intake).



5. Putaran poros pompa
terlalu rendah.










6. Oli terlalu kental.

7. Kerusakan mekanik
seperti lepas kopling,
poros patah dan
sebagainya.
·     Bila terjadi demikian segeralah dimatikan.
·     Periksa penginstalan motor, belt, roda gigi dan sebaganya. Biasanya kesalahan penginstalasian motor 3 phase sering membuat motor berputar terbalik.
·     Betulkan penginstalasian motor dengan memindahkan pemasangan kabel.
·     Bila belt terpasang bersilang juga mengakibatkan putaran terbalik, maka luruskan.
·     Periksa pipa saluran dari tangki ke pompa.
·     Bila ada pipa yang tersumbat, bersihkan.
·     Bila filter atau strainer tersumbat , bersihkan.
·     Tambahkan oli sehingga saluran intake terendan oli.

·     Tuangkan oli pada bagian yang anda curigai bocor, bila suara beisiknya berhenti berarti dibagian itulah yang bocor.
·     Kencangkan baut-baut pengikatnya atau
perapatnya.
·     Putaran pompa hidrolik telah ditentukan sejak perencanaan. Bila putaran terlalu rendah kemungkinan pompa tidak memompa. Untuk itu periksa berapa putaran pompa yang direkomendasikan.
·     Turunnya putaran kemungkinan terjadi selip pada belt, maka betulkan (kencangkan) atau mungkin kena oli, bersihkan.
·     Mungkin salah puli yang dipasang (terlalu besar), ganti dengan puli yang sesuai perbandingannya.
·     Keluarkan oli yang terlalu kental kemudian ganti dengan oli yang sesuai.
·     Gantilah bagian yang rusak tersebut dan ingat penggantinya harus sesuai dengan spesifikasi yang diganti.

                   Tabel 5.3. Diagnosa pompa tidak memompa.
5.4.3.3. Bocor di sekeliling pompa.
Penyebab
Mengatasi / memperbaikinya
1. Perfak (packing) aus.

·     Kencangkan penjepitan perfak atau bila tidak sembuh berarti packing beanar-benar sudah aus. Maka gantilah dengan yang baru.
·     Bila kebocoran disebabkan oleh pengikisan oli, maka segera periksa bagian mana yang mengikis perfak dan perbaikilah.
                   Tabel 5.4. Diagnosa bocor disekeliling pompa.
5.4.3.4. Overheating.
Penyebab
Mengatasi / memperbaikinya
1.Viskositas oli terlalu tinggi.



2.Kebocoran dalam terlalu besar.



3.Terlalu sering membuang oli pada relief valve.

4..Penyetelan/perakitan
bagian-bagian pompa
yang tidak sempurna
(kurang kencang, kurang lurus, kurang sejajar).
5.Pendingin oli tersumbat

·     Ganti dengan oli yang kekentalannya sesuai dengan yang direkomendasikan.
·     Bila bekerja pada suhu yang relatif tinggi
gunakan oli dengan indeks viskositas yang tinggi.
·     Periksalah keausan dan kehilangan perapatan, kemudian perbaiki dan setel kembali.
·     Viskositas oli terlalu kecil (encer ), gantilah dengan oli yang sesuai.
·     Terlalu banyak oli yang dilepas lewat relief valve akan menyebabkan panas juga, maka bila demikian setel kembali (reset) relief valve.
·     Bagian-bagian yang kendor, tidak sejajar, missalignment, menyebabkan gesekan yang besar dan menimbulkan panas.
·     Periksa dan setel kembali hingga sempurna.
·     Bersihkan pendingin oli dengan meniup hingga bersih atau semprotkan bahan pelarut.
                   Tabel 5.5. Diagnosa Overheating.
5.4.3.5. Mesin bekerja tak teratur (Erratic action).
Penyebab
Mengatasi / memperbaikinya
1.Katup-katup, piston dan sebagainya
kemungkinan bengkok
atau seret.








2. Mesin sangat lamban
pada waktu start
pertama.

·     Pertama-tama periksalah bagian yang
dicurigai mendapat kelainan mekanik seperti misalignment pada poros, keausan bearing dan sebagainya.
·     Carilah tanda-tanda oli yang kotor, oli
mengandung vernish, endapan dan
sebagainya.
·     Untuk bagian yang aus perlu diganti, yang bengkok diluruskan bila mungkin.
·   Tapi ingat bahwa pemakaian oli yang salah dapat mengakibatkan kerusakan mekanik.
·     Ini biasanya disebabkan oli yang terlalu kental, oleh karena itu warming up mesin beberapa waktu.

                   Tabel 5.6. Diagnosa mesin bekerja tak teratur.
5.4.3.6. Tekanan dalam sistem rendah.
Penyebab
Mengatasi / memperbaikinya
1.Relief valve disetel terlalu rendah.




2. Relief valve terbuka
(terganjal).





3.Kebocoran pada sistem.












4.Rusak, aus atau macet
pada komponen pompa.






5.Salah penyetelan katup sehingga terjadi hubung singkat oli ( oil shorted circuited) yang langsung kembali ke tangki .

·     Untuk memeriksa penyetelan relief valve, bloklah saluran buangnya dan periksalah tekanan pada saluran dengan pressure gauge.
·     Setel relief untuk tekanan yang dikehendaki.
·     Bersihkan kotoran atau lumpur (endapan) yang mengganjal relief valve.
·     Katup yang terganjal ini menandakan bahwa oli yang digunakan kotor, maka bersihkanlah dengan menyaring lagi oli tersebut.
·     Periksalah seluruh sistem. Kebocoran yang besar pada bagian yang terbuka mudah untuk dideteksi, tetapi kebocoran juga sering terjadi pada pipa yang tersembunyi. Untuk mendeteksi kebocoran tadi caranya, pasang pressure gauge pada saluran, tekan dekat pompa, kemudian bloklah sirkuit dengan cepat. Bila pressure gauge menunjukkan penurunan tekanan berarti ada kebocoran di antara titik pengecekan sebelumnya dan titik pressure gauge ini.
·     Perbaiki kebocoran dengan mengganti pipa.
·     Untuk memeriksanya, pasang pressure gauge dan bloklah sistem pada seberang (dekat) relief valve. Bila tekanan tidak meningkat sedangkan relief valve adalah sehat berarti pompa tidak memompa atau dikatakan ada kelainan atau kerusakan mekanik dalam pompa.
·     Gantilah bagian yang rusak atau aus itu dengan komponen yang sesuai.
·     Kesalahan atau keausan pada katup-katup, piston dan silider dapat menyebabkan kelainan ini .
·     Gantilah bagian-bagian yang aus tersebut dengan komponen baru yang sesuai. Sampai disini anda telah menyelesaikan bahasan tentang perbaikan komponen hidrolik, selanjutnya selesaikanlah tugas-tugas pada lembar tugas anda.
          Tabel 5.7. Diagnosa Tekanan dalam sistem rendah.
5.4.4. Perbaikan/Overhol Sistem Hidrolik.
Pada bagian ini anda akan mempelajari sistematika mengoverhol sistemhidrolik, sehingga anda akan mampu nantinya melaksanakan overhol sistem hidrolik di bengkel anda. Apakah ada perbedaan antara perbaikan dan overhol sistem hidrolik? Tentu saja ada. Perbedaannya ialah bahwa overhol itu merupakan perbaikan secara menyeluruh dari kerusakan mesin / peralatan yang disebabkan oleh keausan atau karena umur pemakaian sudah mencapai jumlah jam kerja yang ditetapkan. Misal 4000 jam kerja untuk sistem hidrolik pada alat berat . Jadi untuk overhol ini tidak harus ada diagnose karena memang sudah diprediksi/diketahui rusak total. Sistematika pelaksanaan overhol hampir sama dengan sistematika perbaikan. Untuk itu pelajarilah uraian berikut!

5.4.4.1. Perencanaan Overhol (Overhol Planning).
Untuk overhol ini perlu adanya perencanaan yang matang agar lancar pelaksanaannya, tidak boros pembiayaan dan masih menguntungkan. Apa sajakah yang harus direncanakan sebelum pelaksanaan overhol itu?
Hal-hal berikut inilah antara lain yang perlu direncanakan:
1. Perhitungan overhol dan pembiayaan (budgeting), meliputi:
a. Perhitungan jenis pekerjaan yang harus dilaksanakan dalam overhol, misalnya pekerjaan bongkar-pasang, pengangkatan (dengan alat berat), pekerjaan pemesinan, pekerjaan elektroplating dan sebagainya. Hal ini perlu diperhitungkan karena akan menyangkut dengan biaya.
b. Perhitungan waktu pengerjaan. Berapa lama mesin/alat akan dioverhol sangat menentukan proses produksi karena semakin lama mesin / alat tidak beroperasi semakin banyak kerugian.
c. Perhitungan tenaga kerja meliputi tenaga ahli sampai tenaga biasa direncanakan baik tempat kerjanya, lama bekerja dan upah kerjanya.
d. Perhitungan biaya meliputi biaya tenaga kerja, biaya alat, biaya bahan maupun biaya perbaikan komponen atau penggantian komponen. Mengenai perbaikan atau penggantian komponen perlu
dipertimbangkan yang mana lebih murah dan lebih baik.
2. Teknisi overhol. Untuk overhol sistem hidrolik ini akan memerlukan beberapa teknisi dari beberapa jenis keahlian, antara lain:
a. Teknisi hidrolik.
b. Teknisi listrik dan elektronik.
c. Teknisi mekanik.
3. Penjadwalan Overhol (Overhol Time tabling).
a. Jadwal pelaksanaan overhol, maksudnya kapan overhol ini dilaksanakan sesuai dengan program kerja perusahaan.
b. Jadwal pembongkaran (dismatling) dan pemeriksaan komponen.
c. Jadwal perbaikan / penggantian komponen.
d. Jadwal penyatuan kembali (reasembling) dan pengujian hasil overhol.

5.4.4.2. Isolasi mesin/peralatan yang akan dioverhol.
Yang dimaksud denagan isolasi mesin/peralatan yang akan dioverhol ialah memindahkan atau memisahkan mesin tersebut ke bengkel ovehol agar terpisah dari mesin/peralatan yang sedang beroperasi. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan overhol tidak terganggu dan juga tidak mengganggu. Yang perlu diperhatikan dalam isolasi ini antara lain;
1. Prosedur isolasi. Prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan perlu dipatuh bersama. Misalnya siapa yang harus melakukan, kapan waktunya, alat apa yang memenuhi syarat yang akan dipergunakan dan sebagainya.
2. Prosedur keselamatan kerja. Agar keselamatan dan kesehatan kerja terjamin kita harus mematuhi prosedur yang berlaku secara umum maupun prosedur yang ada di perusahaan. Khusus untuk sistem hidrolik misalnya, perlu mengosongkan oli bertekanan yang masih ada di dalam sistem.
c.  Memberikan label (tagged) pada sub.assembly yang nantinya akan dipisahpisahkan untuk mempermudah pada waktu penyatuan kembali (reassembling).

5.4.4.3. Pemeriksaan Komponen.
Yang dimaksud dengan pemeriksaan komponen ialah pemeriksaan seperti apa bentuk dan jenis kerusakan komponen tersebut kemudian dianalisis dan diuji sejauh mana/seberat apa kerusakan tersebut terjadi.
Langkah-langkah pemeriksaan adalah sebagai berikut:
1. Membongkar/memindahkan komponen dari induk mesin/peralatan. Setiap komponen atau sub.assembly dicabut (dipindahkan) dari induk mesin/peralatan kemudian dikirim ke bengkel yang sesuai misalnya sub.assembly gear box dikirim ke bengkel mekanik, sub.assembly kelistrikan dikirim ke bengkel listrik dan sebagainya. Ingat! label atau tagged pada setiap sub.assembly jangan sampai hilang.
2. Dismantling atau pembongkaran. Pembongkaran komponen menjadi bagian-bagian terkecil dari komponen atau bijian, hal ini perlu dicermati dan selalu memperhatikan gambar susunan pada maintenance manual. Alat pembongkaran seperti alat pengencang / pengendor, atau alat pemukul, atau alat pemotong harus benar-benar sesuai atau cocok dengan pekerjaan yang sedang ditangani. Setelah pembongkaran selesai kemudian proses pembersihan atau pencucian dari bagian-bagian terkecil agar mudah diidentifikasi dan diperiksa.
3. Pemeriksaan atau pengujian komponen. Karena overhol adalah proses perbaikan menyeluruh dari kerusakan total disebabkan keausan maka untuk bagian-bagian komponen sistem hidrolik yang diprediksi telah aus seperti seal-seal, bearing, pasak/pena dan lain-lainnya, pasti sudah harus diganti kerena aus. Jadi tidak perlu diperiksa lagi. Tetapi bagian-bagian yang lain seperti piston, piston rod, cylinder barrel, valve tube, valve disc, control plunger dan lain sebagainya perlu diperiksa/ditest apakah kondisinya masih baik atau sudah cacat misalnya pengurangan demensi,perubahan bentuk seperti bengkok, tidak sentris atau bahkan retak atau patah.
4. Pemeriksaan dan pengujian harus dilakukan oleh teknisi ahli dan didukung dengan alat pemeriks/alat uji yang memadai di bengkel atau lab masingmasing. Ini semua harus dilaksanakan dengan cermat karena hasilnya akan digunakan sebagai landasan pengambilan keputusan selanjutnya.
5. Pengambilan keputusan. Dari hasil pemeriksaan dan pengujian kerusakan tadi anda dapat mengambil keputusan apakah bagian tersebut perlu diganti dengan yang baru atau cukup diperbaiki saja. Misalnya poros yang bengkok diluruskan, valve disc yang berkurang ukurannya dapat dilapis lagi (elektro plating) dan sebagainya. Tentu saja harus diperhitungkan bahwa perbaikan ini dijamin akan mencapai kualitas yang sama dengan yang baru dengan biaya lebih murah.

5.4.4.4. Pelaksanaan Perbaikan Komponen.
1. Teknisi Perbaikan. Dalam menetapkan personel untuk
melaksanakan perbaikan ini harus disesuaikan antara kerusakan komponen yang akan diperbaiki dengan kompetensi teknisi pelaksana perbaikan. Kemungkinan memerlukan teknisi ahli apabila memerlukan perbaikan yang sangat presisi.
2. Tempat Perbaikan. Maksudnya ialah apakah pelaksanaan perbaikan itu di bengkel sendiri atau harus ke bengkel di luar perusahaan. Karena tidak semua keahlian dan peralatan untuk perbaikan itu dimiliki oleh suatu perusahaan maka pada perbaikan komponen tertentu perlu dibawa ke bengkel lain. Misalnya untuk memperbaiki eksentrisitas dan menguji sentrisitasnya atau untuk perlakuan panas dan sebagainya.
3. Alat perbaikan dan alat testing. Alat-alat perbaikan merupakan faktor penentu keberhasilan perbaikan. Oleh karena itu perlu kiranya alat-alat perbaikan tersebut memenuhi persyaratan teknis. Demikian juga alat pengujian (testing tools) harus memenuhi syarat (terstandar), karena apabila alat ujinya tidak standar maka hasil perbaikannya pun tidak akan memenuhi standar.
4. Pengetesan hasil perbaikan komponen. Setiap hasil perbaikan, sekecil apapun bagian komponen tersebut, perlu dites sebelum dirakit kembali ke dalam komponen induknya dengan mempergunakan alat-alat tes yang telah disebutkan di atas.

5.4.4.5. Penyatuan Kembali (Reassembling).
Penyatuan kembali atau reassembling merupakan pekerjaan akhir dari proses perbaikan atau overhol. Kegiatan reassembling ini sangat tergantung pada pelaksanaan perbaikan komponen. Oleh karena itu monitoring pelaksanaan perbaikan harus dilaksanakan secara konsisten agar jadwal perbaikan yang telah ditetapkan dapat terlaksana secara tepat. Langkah-langkah reassembling dapat anda ikuti sebagai berikut :
1. Persiapan. Hal pokok yang harus dilakukan dalam persiapan ini adalah mengumpulkan komponen-komponen yang telah selesai diperbaiki baik yang diperbaik di dalam bengkel sendiri atau pun yang di bengkel luar.
2. Periksalah semua komponen apakah sudah terkumpul semuanya dan cocokan dengan gambar kerja. Disamping itu tentu saja dipersiapkan pula alat-alat perakitan dan alat penunjangnya seperti alat angkat, alat keselamatan kerja.
3. Jangan lupa persiapkan pula bahan-bahan yang diperlukan seperti oli, grease, selang, udara kempa, kabel dan lain sebagainya.
4. Pelaksanaan perakitan. Biasanya sistem hidrolik merupakan bagian atau sub.sistem dari suatu mesin / peralatan. Dengan demikian pelaksanaan overholnya kemungkinan bersamaan dengan sub-sistem yang lain tetapi dapat juga hanya sub-sistem hidrolik saja yang dioverhol. Komponen yang akan dirakit kembali ini adalah komponen yang telah selesai diperbaiki dan telah dikumpulkan dan juga komponen-komponen baru (replacement) seperti : seal, bearing, selang, pegas, cincin washer dan lain sebagainya.
5. Dalam pelaksanaan perakitan ini harus selalu dimonitor oleh Supervisor agar tidak terjadi kesalahan. Setelah selesai perakitan, Supervisor perakitan harus memeriksa kembali hasil kerja stafnya sebelum menyerahkan mesin / peralatan yang dioverhol ke bagian quality control dan quality assurance.

5.4.4.6. Pengujian Hasil Overhol.
Untuk pengujian hasil overhol sistem hidrolik yang perlu dilakukan adalah :
1. Uji tampak yaitu diperiksa/diamati tata letak pemasangan komponennya, kerapian pemasangan selang-selangnya, kebenaran posisi setiap komponen dan lain lainnya. Apabila secara fisual belum dapat diterima maka bagian quality control perlu mengembalikan hasil overhol tersebut untuk diperbaiki lagi.
2. Uji fungsi yaitu menguji setiap komponen apakah sudah dapat bekerja sesuai dengan fungsi masing-masing komponen. Pengujian ini dengan cara menjalankan/menggerakkan semua bagian yang bergerak tanpa beban sambil diamati apakah jalannya / gerakannya sudah sesuai dengan yang diharapkan.
3. Uji coba atau running test yaitu pengujian hasil perbaikan/ overhol, setelah melalui pengujian sebelumnya, dengan cara mengoperasikan mesin/peralatan dengan dibebani mulai dari beban ringan hingga beban penuh selama waktu yang telah ditetapkan. Apabila dalam pengujian masih terdapat kelainan-kelainan maka bagian quality control perlu mengembalikan lagi mesin/peralatan tersebut untuk disetel atau diperbaiki kembali sampai berhasil dengan baik.
Setelah semua pengujian selesai dan dinyatakan baik maka bagian quality assurance mengeluarkan sertifikat tanda uji bahwa mesin/peralatan tersebut telah layak untuk dioperasikan lagi.
Sampai disini anda telah menyelesaikan bahasan tentang perbaikan/overhol sistem hidrolik dan selanjutnya kerjakanlah tugas-tugas dalam lembar tugas anda !

5.4.5. Serah Terima (Recommisioning).
Yang dimaksud dengan recommisioning ialah penyerahan kembali mesin/ peralatan yang telah selesai dioverhol dari bagian maintenance ke bagian produksi (lini produksi) atau bagian pemakai mesin/peralatan tersebut atau ke pelanggan yang menggunakan jasa overhol di bengkel ini untuk digunakan atau dioperasikan lagi.

5.4.5.1. Prosedur Recommisioning Hydraulic Sistem.
Dalam penyerahan dan pemakaian kembali mesin/peralatan yang telah selesai dioverhol ditempuhlah prosedur berikut :
1. Kepala bengkel melaporkan hasil perbaikan/overhol kepada pimpinan perusahaan lengkap dengan data-data hasil perbaikan/overhol dan hasil pengujiannya.
2. Pimpinan perusahaan memastikan kebenaran laporan.
3. Bila mesin dipakai di perusahaan sendiri maka pimpinan perusahaan melimpahkannya kepada pimpinan produksi atau pimpinan pemakai mesin tersebut.
4. Bila mesin adalah kepunyaan pelanggan maka pimpinan perusahaan memberitahukan kepada pelanggan agar yang bersangkutan mengambilnya.
5.  Mesin hasil perbaikan/overhol diserah terimakan.
6. Prosedur penyerahan juga difokuskan pada prosedur adaministrasi. Hal ini terserah kepada sistem administrasi perusahaan yang bersangkutan .

5.4.5.2. Verivikasi hasil perbaikan/overhol.
Mesin hasil perbaikan/overhol yang telah diserah terimakan, perlu diverivikasi terlebih dulu sebelum dioperasikan untuk produksi. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1. Pemasangan kembali (reinstalling) yaitu memasang kembali mesin/ peralatan hasil overhol, yang kemungkinan kembali ke tempat semula atau mungkin pindah ke tempat lain. Bila kembali ke tempat semula tentu saja sarana penunjangnya masih lengkap seperti fondasi, kabel listrik dan kelengkapannya, saluran udara kempa (bagi mesin yang memerlukan) dan lain sebagainya. Tetapi bila pindah tempat, barang kali sarana-sarana penunjang tadi perlu dibuat lagi instalasinya. Setelah semuanya lengkap dan terpasang kemudian mesin/peralatan diperiksa kedatarannya (leveling), dan dikencangkan pengikatannya sekuat mungkin. Setelah itu baru disambungkan ke sumber tegangan listrik dan sumber udara kempa.
2. Pemeriksaan pra pengoperasian yaitu apakah oli hidrolik maupun oli pelumas telah diisi sesuai dengan ketentuan, apakah kabel-kabel listrik telah tersambung dengan baik, saluran udara kempa (bagi yang perlu) apakah sudah tersambung denga baik, apakah sistem pendinginan sudah siap dan sebagainya.
3. Verifikasi kebenaran operasi mesin/peralatan yaitu pengoperasian percobaan kembali oleh operator, apakah mesin/peralatan dapat dioperasikan seperti semula.
4. Pengoperasiannya seperti uji coba (running test) selama waktu yang telah ditetapkan. Setelah mesin/peralatan hasil perbaikan/overhol selesai diuji coba pada lini produksi dan hasilnya memuaskan maka surat tanda serah terima ditanda tangani. Bila masih ada hal-hal yang perlu penyempurnaan maka bengkel perbaikan/overhol seharusnya masih bertanggung jawab untuk menyempurnakan hasil perbaikan tersebut.

5.4.5.3. Updating Administrasi Pemeliharaan.
Updating administrasi pemeliharaan yaitu memperbaharui kartu-kartu seperti kartu mesin, kartu pemakaian, kartu pengoperasin mesin (bila mungkin ada perubahan karena ada yang dimodifikasi) dan laporan . Agar proses pemeliharaan selanjutnya berjalan dengan baik, lancar dan berkesinambungan perlu kiranya ada dukungan administrasi yang memadai .
Macam-macam kegiatan administrasi pemeliharaan antara lain :
1. Jadwal Pemeliharaan.
Kegiatan pemeliharaan preventive perlu dijadwalkan misalnya kegiatan mana yang dilaksanakan secara harian (daily), mingguan (weekly), bulanan (monthly), enam bulanan (six monthly) dan tahunan (yearly). Jadwal ini harus dibuat berdasarkan petunjuk dari buku petunjuk pemeliharaan (maitenace manual). Dengan jadwal tersebut berarti kita sebagai teknisi atau pun sebagai superviser dapat mempedomani untuk bekerja.
2.  Kartu Pemeliharaan (Maintenance Record).
Kartu pemeliharaan ini perlu dibuat untuk mencatat segala perbaikan yang telah dilakukan terhadap suatu mesin/peralatan. Kartu ini berupa tabel yang berisi waktu pelaksanaan (tanggal),jenis perbaikan,spare part dan bahan yang digunakan serta petugas pelaksana.
3. Kartu Pemeliharaan.
Tanggal
Jenis perbaikan
Spareparts
Bahan
Petugas
Nama/paraf










                   Tabel 5.8. Contoh Kartu Pemeliharaan.
4. Inventarisasi Pemeliharaan.
Sistem inventarisasi ini akan membantu menertibkan pelaksanaan pemeliharaan karena semua yang kita perlukan  tercatatnya segala sesuatu kita akan mudah menemukan hal-hal yang kita perlukan.
Hal-hal yang perlu diinventarisasikan antara lain :
1. Alat-alat pemeliharaan dan perbaikan termasuk alat pengujian.
2. Bahan pemeliharaan dan spare part.
3. Buku-buku manual dan katalog.
4. Mesin atau peralatan itu sendiri.
Disamping itu harus tercatat pula antara lain :
1. Komponen-komponen yang dapat diperbaiki untuk dipasang kembali untuk dapat menentukan komponen yang diperlukan kita harus dapat membaca katalog untuk memilih spesifikasi komponen yang tepat.
2. Gudang atau tempat komponen bekas dan catatan barang-barang yang akan dibuang atau barang kali masih dapat dihibahkan kepada orang lain. Sampai di sini anda telah menyelesaikan bahasan tentang recommissioning hasil perbaikan/overhol sistem hidrolik . Selanjutnya kerjakanlah tugas-tugas pada lembar tugas anda.

2 comments:

  1. bro makasih banget tentang infonya yang udah buat laporan magang saya

    ReplyDelete
  2. Mau tanya , saya punya mesin genteng beton mikasa, mesin genteng saya press nya kurang. Kira2 yg rusak apa yah?

    ReplyDelete